Postingan

Guru Bermuka Dua

Langkah kaki Riyan terdengar ritmis menyusuri koridor kelas XI. Di tangan kanannya, ada sebuah laptop dan maket jembatan hidrolik mini dari stik es krim yang dia rakit hingga jam dua malam. Wajahnya cerah, senyumnya mengembang lebar menyapa setiap siswa yang berpapasan dengannya. "Pagi, Pak Riyan! Hari ini kita praktikum, kan?" seru seorang siswa antusias. "Pagi! Tentu saja, siapkan energi kalian ya!" balas Riyan dengan lambaian tangan yang penuh semangat. Bagi Riyan, mengajar bukan sekadar menggugurkan kewajiban delapan jam sehari. Mengajar adalah hidupnya. Dia selalu gelisah jika melihat siswanya bosan. Itulah mengapa dia selalu bergerak aktif, menciptakan metode belajar baru, dan tak jarang menyuarakan ide-ide segar di rapat mingguan. Riyan hanya ingin satu hal: melihat SMA Pelita Bangsa menjadi tempat terbaik untuk anak-anak itu bertumbuh. Namun, Riyan terlalu naif untuk memahami bahwa di dunia orang dewasa, cahaya yang terlalu terang terkadang menyilaukan mata ...